Elisa Struggle

blogger templates
Elisa Struggle
oleh Niatul Khoiroh

Namanya adalah elisa nuraini panggil saja dia lisa,dia berumur 16 tahun dia adalah seorang anak yang di besarkan di sebuah desa terpencil dia terlahir dari keluarga yang sederhana, dia cukup terkenal dengan seorang yang mempunyai sifat kalem, dia tinggal bersama kedua orang tuanya dan adiknya   yang kini menduduki bangku kelas 7 MTs.
Rabu 04 agustus 2011 dimana hari ini adalah hari pertama gadis manis berjilbal itu menginjakkan kaki pada sekolah menengah atas negeri 2 mungkin dia akan lebih memperbanyak ilmu dan pengalamannya melebihi ilmu yang sebelumnya ia dapat waktudi sekolah menengah pertama dulu.
Meskipun keadaan ekonomi keluarga elisa terkadang minus,tapi keluarganya tetap berusaha membiayainya untuk tetap sekolah dan berharap kelak elisa akan menjadi orang yang sukses tidak seperti keadan orang tuanya sekarang.
Seperti halnya di sekolah-sekolah lain, awal sekolah siswa  dan siswi mengadakan masa orientasi siswa (MOS) yang tujuannya untuk saling mengenal.
3 hari berlalu masa orientasi sudah berakhir, saat berakhirnya mos itu elisa akrab dengan salah seorang siswi yang baru ia kenal dari hasil taarufan saat mos itu, tasya namanya, dan kebetulan rumah tasya lumayan dekat dengan elisa Cuma beda desa aja, tapi herannya kenapa baru kenal yaaa?...... elisapun berteman dekat dengan tasya hingga menjadi sahabat karib.
3 bulan ia lalui bersekolah di SMA negeri itu, suka dan duka persahabatannya itu ia jalani bersama, ia punmengetahui satu-persatu kemampuan teman-temannya termasuk kemampuan tasya sahabatnya sendiri bahkan elisa tau bahwa kemampuannya sendiri dibawah kemampuan temannya.
       Kukkrruyyuuuuukkkkkkkkk……………….”!
Suara ayam yang menandakan hari akan mulai pagi, elisa memulai paginya dengan sholat subuh sebelum fajar terbit, setelah solat ia laksanakan elisa langsung beranjak pergi mandi agar tidak ke siangan apalagi tasya akan mampir ke rumahnya untuk mengajak jalan bersama ke sekolah,06.00 tasyapun datang dan memanggil nama elisa:
”lis,ayo kalok mau jalan sekolah …!”(ajak tasya)
 “ia bentar, ni aku sudah selessai” jawab elisa, (karna terburu-buru elisapun lupa untuk sarapan.)
Pagi hari saat elisa pergi ke sekolah bersama tasya diperjalanan mereka berbincang bincang sambil menikmati perjalanannya yang lumayan cukup jauh jaraknya dari rumah mereka.
“Kamu pintar ya tasya!” elisa memulai pembicaraannya .
“Ah enggak kok lis, biasa aja” jawab tasya merendahkan diri .
“buktinya setiap pelajaran berlangsung kamu cepat faham apa yang guru jelaskan, kamu selalu menjawab pertanyaan dari guru-guru.”sambung elisa lagi.
“Kebetulan kali lis” jawab tasya
“Aku ingin aku sepintar kamu tas, kamu orangnya cantik lagi, pasti orang tua kamu bangga mempunyai anak sepintar kamu aku ingin seperti kamu tapi sepertinya aku gak bisa! Kemampuanku kan gini-gini aja. Aku ingin membuat orang tuaku bangga padaku tasya” curhat elisa.
“Kamu pasti bisa kok lis asal kamu ada usaha”  kata tasya meyakinkan elisa.
“Entahlah tasya” jawab elisa.
Dari itulah tasya mulai mengerti sifat elisa sahabatnya itu yang ingin seperti dirinya.
Tak terasa perjalanan mereka dari rumahnya sudah sampai di halaman sekolah yang cukup lebar itu, dan tiba-tiba “Brrruuukkkk” elisa pingsan dan jatuh tergeletak diatas barisan paving yang tertata rapi.
“Lho lis kamu kenapa? Bangun lis” tasya mencoba membangunkan elisa dan cepat-cepat tasya memanggil temannya yang lain untuk membawa elisa keruang UKS.
10 menit kemudian elisa terbangun dari pingsannya.
”pusing  banget…kenapa aku ada di ruang UKS ?” Tanya elisa pada tasya yang menemaninya dari tadi.
“kamu tadi pingsan lis tergeletak di halaman depan,pasti kamu tadi belum sarapan yaaa ?”Tanya tasya .
“iya tasya aku belum sarapan,aku lupa yang mau sarapa dari terburu-burunya aku tadi.” Jawab elisa.
“Lain kali gak usah terburu-buru deh, sarapan  aja dulu,sekarang kamu pulang aja ya lis, istirahat di rumah saja, tadi aku sudah izinin kamu sama bapak guru kok” pinta tasya.
“Tapi tas kalau aku pulang, nanti aku bisa ketinggalan pelajaran, aku ikut pelajaran aja deh” kata elisa.
“Sudah lis tidak apa-apa untuk hari ini saja, daripada kamu sakit ! Kalau kamu sakit kan bisa tidak ikut pelajaran lebih banyak lagi, pulang ya lis” pinta tasya lagi.
hmzz iya deh lis aku pulang saja” jawab elisa.
 Dan elisa pun pulang karna bujukan tasya,dengan diantar P.Erwin salah seorang gurunya elisa pun sampai di rumahnya.
“Assalamualaikum” elisa memberi salam dan membuka pintu rumah.
“Waalaikum salam” dari ruang tengah ibunya menjawab salam elisa.
“Kok sudah pulang lis? Tanya ibu elisa.
“Elisa pusing bu, tadi di  sekolah elisa pingsan” menjawab dengan suara yang lemas sambil duduk dikursi ruang tamu.
“Loh kok sampai pingsan lis, tadi kamu gak sarapan pagi yaa?” Tanya ibunya lagi.
“iya bu” jawab elisa.
“Lain kali jangan lupa sarapan yaa lis biar gak sakit” mengelus kepala elisa.
“Buu maafin elisa ya buu, sekarang elisa tidak mengikuti semua mata pelajaran disekolah karena elisa pulang jadinya elisa ketinggalan pelajaran kan buu!” elisa berkata dengan rasa dirinya bersalah.
“Elisa kan bisa pelajari sendiri atau ibu carikan guru les buat elisa meskipun ibu gak punya uang, ibu akan usahakan demi elisa, ibu  selalu do’ain elisa kok,semoga elisa sukses,ibu akan melakukan apa saja demi pendidikan elisa”   dengan menatap elisa.
“iya bu”   jawab elisa dengan air mata yang menetes karna harunya kegigihan ibunya demi dia.
“ibu” (ujar elisa menyambung perkataan sebelumnya) elisa ingin ibu dan bapak bahagia karna elisa tapi elisa tidak tau buu elisa harus bagaimana
”Sudah elisa yang penting kamu sembuh dulu gak usah mikirin apa-apa dan fokus pada pelajaranmu dulu, ibu yakin kamu pasti bisa bahagiakan ibu dan bapak”
“tapi bu”memotong pembicaraan ibunya
“ Yakinlah” kata ibunya.
“terima kasih bu” jawab elisa lemas karena masih di iringi oleh tangisannya.
“sudah jangan menangis” tangan lembut ibu mengusap pipi yang penuh air mata. Dan semua perkataan ibunya itu selalu ada dalam hati kecil elisa.
Begitu tinggi cita-cita elisa untuk membahagiakan orang tuanya, tapi elisa…..? elisa tidak tau apa yang harus dia lakukan untuk kedua orang tuanya yang begitu semangat membiayai elisa untuk dunia pendidikan hingga elisa menduduki bangku SMA kini, orang tua yang selama ini terbebani oleh biaya pendidikannya sungguh sangat tidak pantas menerima kata gagal dari seorang anak
       Elisa memang seseorang yang rasa ingin taunya sangat besar pantang bagi elisa kata menyerah.
       Sore hari didepan teras rumahnya elisa berfikir jauh dengan angan-angannya.
“bagaimana aku bisa bahagiakan ibu dalam waktu yang cepat (hati kecilnya berbicara) aku butuh proses untuk bisa semua yang orang tuaku harapkan,apakah aku bisa....?  pokoknya aku harus bisa”   gumamnya sendiri.
Keesokan harinya elisapun masuk sekolah karna ia rasa sakitnya yang ia rasakan sudah agak mendingan.
Di halaman sekolah saat elisa baru datang dia bertemu dengan tasya sahabatnya.
“hai lis sudah sembuh ?” sapa tasya.
“alhamdulillah sudah mendingan tas”  jawab elisa.
“hmzz syukur kalau gitu,eh lis aku ke kantin dulu ya”  kata tasya.
“iya” jawab elisa.
Tidak lama kemudian elisa melangkahkan kakinya menuju tangga sekolah untuk memasuki ruang kelasnya,”mulai detik ini aku harus benar benar bersungguh sungguh mencari ilmu”niatnya dalam hati.
“Doooorrrr”sentakan tasya mengagetkan elisa yang sedang melamun.
“kenapa kamu lis seperti orang susah saja? Katanya sudah sembuh kenapa masih lemas kayak gini?”tanya tasya seraya memegang bahu elisa.
“enggak kok tasya aku biasa saja”
“bohong nhe yaaaa itu raut wajahnya beda,kusut gitu seperti keset” ujar tasya mengejek elisa dengan candanya.
“Ah tasya bercandanya,gak lucu tau”(jawab elisa dengan wajah cemberut)aku sekarang lagi malas buat bercanda tas jadi kamu gak usah bercandain aku dech” ketus elisa.
(Dan perkataan elisa menyinggung hati tasya)
“ya udah,aku kan cuma mau hibur kamu aja lis,biasa aja kan!,ya udah deh aku ke kelas aja” perasaan kecewa tasya karna sahabatnya seperti itu.(tasya mempercepat langkahnya pergi ke kelasnya).
“eh tas tunggu...”panggil elisa dengan perasaan yang bersalah,
“apa lagi????”tasya memasang wajah judesnya.
“maafin aku ya,aku gak bermaksud nyinggung kamu” kata elisa.
“iya gak papa kok,aku ngerti”tasya mengerti keadaan sahabatnya itu.
“makasih ya tas”kata elisa dengan senyuman.
Tasya mengangguk tanda iya.
2 tahun kemudian saat mereka duduk di bangku kelas 3 merekapun sibuk dengan try out dan ujian ujian yang lainnya yang mereka hadapi untuk mendapat nilai kelulusan.Dengan semangatnya, elisa belajar dengan bersungguh sungguh selama ujian itu berlangsung karna ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya.
Setelah beberapa hari ujian yang mereka hadapi telah selesai,tiba saatnya puncak pengumuman kelulusan akan di umumkan di sekolah mereka,semua siswapun berkumpul di aula untuk mengetahui hasil pengumuman kelulusan itu termasuk elisa dan tasya.
“Duuuuh deg degan nhe tas,aku lulus enggak ya ...?” tanya elisa pada tasya yang khawatir dirinya tidak akan lulus.
“santai ajha kali lis kamu pasti lulus kok !”menenangkan elisa yang sepertnyai agak ketakutan.
“Amiiiiinnnn”elisa mengamini perkataan tasya.
Setelah semua siswa berkumpul di ruang aula,pembacaan hasil kelulusanpun mulai di bacakan oleh kepala sekolah.Dengan tubuh gemetar dan keringat dingin yang membasahi elisa mendengarkan hasil pengumuman itu,dan tiba tiba kepala sekolah memanggil namanya “elisa nuraini kamu lulus dengan hasil ujian yang memuaskan”elisapun senang dengan semua itu begitupun dengan tasya dia juga lulus dengan hasil yang memuaskan pula.
Elisapun pulang dengan membawa kabar yang membahagiakan untuk orang tuanya.Sesampainya di rumah elisapun langsung memeluk ibunya dan seraya berkata “bu aku lulus dengan hasil yang memuaskan”
“syukur alhamdulillah elisa, ibu memang yakin kamu pasti bisa,ibu bangga sama elisa” memeluk erat tubuh elisa dengan di iringi tangis bahagia.
“Dari dulu elisa memang ingin ibu bangga kepada elisa,dan elisa tidak ingin ibu kecewa pada elisa bu”kata elisa dengan mencium tangan ibunya.
“dan sekarang kamu membuktikannya nak,ibu sangaaaat bangga”
“maafin elisa ya bu jika selama elisa sekolah,ibu terbebani dengan biaya sekolah elisa,dan elisa berterimakasih bu karna ibu tidak pernah mengeluh”
“sama sama elisa”


 kini semuua perjuangan ibunya tidak sia sia untuk elisa begitupun perjuangan elisa yang ingin membuat ibunya bangga pada dirinya sudah tecapai.

0 Response to "Elisa Struggle"

Posting Komentar